Fakultas Hukum Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang memperkuat langkah internasionalisasinya melalui kunjungan resmi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Hanoi, Vietnam pada Jumat (29/8).

Delegasi dipimpin Dekan Fakultas Hukum Unwahas, Dr. M. Shidqon Prabowo, didampingi dosen dan mahasiswa, dan diterima langsung oleh Duta Besar RI untuk Vietnam, Benny Abdi, beserta jajaran staf KBRI.

Kegiatan ini bertujuan memperluas jejaring akademik sekaligus memperkaya wawasan civitas akademika mengenai peran hukum dalam dinamika internasional, diplomasi, dan pembangunan ekonomi.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami hukum dalam lingkup nasional, tetapi juga melihat langsung bagaimana hukum internasional bekerja, bagaimana regulasi perdagangan mempengaruhi ekonomi kawasan, serta bagaimana perlindungan hukum diberikan kepada pekerja migran Indonesia di luar negeri,” ujar Dr. Shidqon.

Dubes RI Benny Abdi, menekankan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam mendukung diplomasi Indonesia.

“Isu hukum selalu terkait erat dengan hubungan antarnegara, baik dalam bidang perdagangan, perlindungan pekerja migran, maupun kerja sama ekonomi digital. Melalui penelitian dan forum akademik, perguruan tinggi dapat menjadi aktor diplomasi intelektual,” ungkapnya.

Topik strategis yang dibahas mencakup, Hukum Perdagangan Internasional, perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI), Ekonomi Digital dan E-Commerce dan Diplomasi Akademik.

Delegasi Unwahas juga menawarkan gagasan riset bersama dengan universitas di Vietnam yang dapat difasilitasi KBRI, terutama terkait hukum perdagangan, hukum digital, dan hukum lingkungan.

Bagi mahasiswa, kunjungan ini menjadi pengalaman belajar langsung tentang diplomasi dan praktik hukum internasional.

“Ini bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan bagian dari proses pembelajaran nyata. Mahasiswa melihat sendiri bagaimana hukum, diplomasi, dan ekonomi saling terhubung,” kata salah satu dosen pendamping.

Pertemuan diakhiri dengan pertukaran cenderamata sebagai simbol persahabatan, sekaligus kesepakatan membuka ruang komunikasi berkelanjutan dalam bentuk seminar, penelitian kolaboratif, dan program pertukaran akademik.

Melalui langkah ini, Fakultas Hukum Unwahas menegaskan komitmennya menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan orientasi global, mencetak lulusan hukum yang tidak hanya menguasai hukum positif, tetapi juga mampu berperan dalam diplomasi dan pembangunan internasional.

Source: https://bahterajateng.com/delegasi-fh-unwahas-diskusi-strategis-dengan-kbri-vietnam-bahas-isu-hukum-diplomasi-dan-ekonomi-digital/

Fakultas Hukum Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring internasional melalui kunjungan resmi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Hanoi, Vietnam, pada 29 Agustus 2025. Kunjungan ini dipimpin oleh Dekan Fakultas Hukum Unwahas, [Nama Dekan], didampingi oleh sejumlah dosen dan perwakilan mahasiswa, dan disambut langsung oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Vietnam, Benny Abdi, bersama jajaran staf KBRI.

Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda strategis Fakultas Hukum Unwahas dalam memperkuat kolaborasi akademik di tingkat regional sekaligus memperdalam pemahaman mahasiswa dan dosen tentang dinamika hukum internasional, diplomasi antarnegara, serta kontribusi hukum terhadap pembangunan ekonomi.

Dalam sambutannya Dekan Fakultas Hukum Unwahas menyampaikan bahwa kunjungan ini membuka peluang untuk mengintegrasikan teori hukum dengan praktik nyata di lapangan. “Kami ingin mahasiswa tidak hanya belajar hukum dalam konteks nasional, tetapi juga memahami bagaimana hukum internasional bekerja, bagaimana regulasi perdagangan mempengaruhi ekonomi kawasan, serta bagaimana perlindungan hukum diberikan kepada pekerja migran Indonesia di luar negeri,” tegasnya.

Selanjutnya, Duta Besar RI menekankan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam diplomasi internasional. Menurutnya, isu hukum tidak dapat dipisahkan dari hubungan antarnegara, baik dalam bidang perdagangan, perlindungan tenaga kerja migran, maupun kerja sama ekonomi digital.

“Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung diplomasi Indonesia. Melalui kajian hukum, penelitian, dan forum akademik, mahasiswa dan dosen dapat menjadi aktor diplomasi intelektual yang berkontribusi langsung pada penguatan hubungan bilateral,” ujar Dubes RI di hadapan delegasi Unwahas.

Dalam pertemuan tersebut, sejumlah topik strategis dibahas secara mendalam, antara lain:

1) Hukum Perdagangan Internasional – bagaimana aturan hukum dapat memperkuat kerja sama Indonesia–Vietnam, khususnya dalam sektor ekspor-impor dan investasi.

2) Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI) – tantangan hukum dalam memberikan perlindungan dan pendampingan bagi pekerja migran yang berada di Vietnam.

3) Ekonomi Digital dan E-Commerce – peluang kerja sama hukum dan regulasi di era transformasi digital, mengingat pertumbuhan ekonomi Vietnam yang pesat dalam sektor teknologi.

4) Diplomasi Akademik – pentingnya peran perguruan tinggi sebagai jembatan hubungan antarbangsa melalui riset, seminar internasional, hingga program pertukaran dosen dan mahasiswa.

Delegasi Unwahas juga menawarkan gagasan kolaborasi riset bersama antara Fakultas Hukum Unwahas dengan universitas-universitas di Vietnam, yang dapat difasilitasi oleh KBRI. Kolaborasi ini diharapkan melahirkan kajian hukum yang relevan dengan isu kontemporer, seperti hukum perdagangan, hukum lingkungan, hingga hukum digital.

Kunjungan ini menjadi momentum penting bagi Fakultas Hukum Unwahas dalam memperluas wawasan global civitas akademik. Mahasiswa yang turut serta mendapatkan kesempatan langsung untuk berdialog dengan pejabat diplomatik, memahami peran KBRI, dan melihat bagaimana hukum berperan dalam memperkuat hubungan bilateral Indonesia–Vietnam.

“Bagi kami, ini bukan hanya kunjungan seremonial, tetapi bagian dari proses pembelajaran nyata. Mahasiswa dapat melihat bagaimana hukum, diplomasi, dan ekonomi saling terkait dalam dinamika internasional. Ini menjadi modal penting untuk melahirkan lulusan hukum yang berdaya saing global,” ujar salah satu dosen pendamping.

Kunjungan delegasi Fakultas Hukum Unwahas ke KBRI Vietnam diakhiri dengan pertukaran cenderamata sebagai simbol persahabatan dan kerja sama yang erat. Kedua belah pihak menyepakati untuk terus membuka ruang komunikasi, baik dalam bentuk seminar bersama, penelitian kolaboratif, maupun program pertukaran akademik.

Dengan semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi, Fakultas Hukum Unwahas berkomitmen untuk terus memperkuat kontribusi akademiknya tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga dalam forum internasional. Melalui jejaring diplomasi dan kerja sama lintas negara, Fakultas Hukum Unwahas ingin mencetak generasi jurist yang tidak hanya menguasai hukum positif, tetapi juga memahami konteks global dalam diplomasi dan pembangunan ekonomi.

Fakultas Hukum Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang memperkuat langkah internasionalisasinya melalui kunjungan resmi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Hanoi, Vietnam pada Jumat (29/8).

Delegasi dipimpin Dekan Fakultas Hukum Unwahas, Dr. M. Shidqon Prabowo, didampingi dosen dan mahasiswa, dan diterima langsung oleh Duta Besar RI untuk Vietnam, Benny Abdi, beserta jajaran staf KBRI.

Kegiatan ini bertujuan memperluas jejaring akademik sekaligus memperkaya wawasan civitas akademika mengenai peran hukum dalam dinamika internasional, diplomasi, dan pembangunan ekonomi.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami hukum dalam lingkup nasional, tetapi juga melihat langsung bagaimana hukum internasional bekerja, bagaimana regulasi perdagangan mempengaruhi ekonomi kawasan, serta bagaimana perlindungan hukum diberikan kepada pekerja migran Indonesia di luar negeri,” ujar Dr. Shidqon.

Dubes RI Benny Abdi, menekankan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam mendukung diplomasi Indonesia.

“Isu hukum selalu terkait erat dengan hubungan antarnegara, baik dalam bidang perdagangan, perlindungan pekerja migran, maupun kerja sama ekonomi digital. Melalui penelitian dan forum akademik, perguruan tinggi dapat menjadi aktor diplomasi intelektual,” ungkapnya.

Topik strategis yang dibahas mencakup, Hukum Perdagangan Internasional, perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI), Ekonomi Digital dan E-Commerce dan Diplomasi Akademik.

Delegasi Unwahas juga menawarkan gagasan riset bersama dengan universitas di Vietnam yang dapat difasilitasi KBRI, terutama terkait hukum perdagangan, hukum digital, dan hukum lingkungan.

Bagi mahasiswa, kunjungan ini menjadi pengalaman belajar langsung tentang diplomasi dan praktik hukum internasional.

“Ini bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan bagian dari proses pembelajaran nyata. Mahasiswa melihat sendiri bagaimana hukum, diplomasi, dan ekonomi saling terhubung,” kata salah satu dosen pendamping.

Pertemuan diakhiri dengan pertukaran cenderamata sebagai simbol persahabatan, sekaligus kesepakatan membuka ruang komunikasi berkelanjutan dalam bentuk seminar, penelitian kolaboratif, dan program pertukaran akademik.

Melalui langkah ini, Fakultas Hukum Unwahas menegaskan komitmennya menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan orientasi global, mencetak lulusan hukum yang tidak hanya menguasai hukum positif, tetapi juga mampu berperan dalam diplomasi dan pembangunan internasional.

Source: https://bahterajateng.com/delegasi-fh-unwahas-diskusi-strategis-dengan-kbri-vietnam-bahas-isu-hukum-diplomasi-dan-ekonomi-digital/

Fakultas Hukum Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan mutu akademik dan memperluas jejaring internasional.

Hal itu diwujudkan melalui kegiatan Benchmarking Kurikulum dan Penjaminan Mutu di Hanoi Law University, Vietnam pada Jumat (29/8).

Delegasi Fakultas Hukum Unwahas dipimpin Dekan Dr. M. Shidqon Prabowo, didampingi wakil dekan, ketua program studi, dosen, bagian akademik, serta Unit Penjaminan Mutu Fakultas (UPMF).

Mereka disambut langsung pimpinan Hanoi Law University, salah satu perguruan tinggi hukum tertua dan ternama di Vietnam.

Dalam dialog akademik, kedua pihak membahas desain kurikulum berbasis kompetensi, penerapan outcome-based education (OBE), hingga strategi menghadapi tantangan globalisasi dan digitalisasi hukum.

“Kurikulum dan sistem penjaminan mutu yang kami terapkan harus mampu menjawab kebutuhan nasional sekaligus selaras dengan perkembangan internasional. Benchmarking di Hanoi Law University memberikan inspirasi berharga untuk pengembangan fakultas kami,” kata Dekan Fakultas Hukum Unwahas, Dr. Shidqon.

Ada tiga fokus utama benchmarking ini. Pertama, pengembangan kurikulum hukum adaptif yang menyeimbangkan teori, keterampilan praktis, serta isu-isu kontemporer seperti hukum lingkungan, perdagangan internasional, dan cyber law.

Kedua, sistem penjaminan mutu akademik berbasis standar internasional, mulai dari asesmen dosen, evaluasi mahasiswa, hingga mekanisme continuous improvement.

Yang terakhir, penjajakan peluang kolaborasi internasional, meliputi pertukaran dosen dan mahasiswa, riset kolaboratif, publikasi bersama, serta penyelenggaraan seminar internasional.

Dr. Nanang Nur Kholis dari Kantor Urusan Internasional Unwahas menegaskan kegiatan ini bagian dari implementasi roadmap internasionalisasi kampus.

“Kerja sama lintas negara ini diharapkan memperkuat peran Fakultas Hukum Unwahas dalam mencetak sarjana hukum yang profesional, berintegritas, dan siap bersaing secara global,” ujarnya.

Pimpinan Hanoi Law University, Assoc. Prof. Dr. Phan Thi Lan Huong, menyambut positif kolaborasi tersebut. Menurutnya, kerja sama antarperguruan tinggi di Asia Tenggara penting untuk membangun komunitas akademik yang solid.

Dengan benchmarking ini, Fakultas Hukum Unwahas berkomitmen mengadopsi praktik terbaik dari Hanoi Law University guna memperkuat mutu pembelajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat, serta memperluas jejaring internasional.

Source : https://suaramuda.net/2025/08/31/mahasiswa-fh-unwahas-unjuk-gigi-di-hanoi-law-university-bedah-sistem-pajak-indonesia-vietnam/

Anak-anak muda dari Fakultas Hukum Universitas Wahid Hasyim (FH Unwahas) Semarang lagi-lagi bikin bangga.

Kali ini mereka ikut kuliah bareng di Hanoi Law University (HLU), Vietnam, sekaligus tampil membawakan presentasi keren bertajuk “Indonesia – Vietnam Tax Administration Comparison Updates.

Salah satu mahasiswa FH Unwahas, Arvin Max Samuels, maju ke depan forum untuk menjabarkan perbandingan sistem administrasi perpajakan Indonesia dan Vietnam.

Arvin mengulik soal reformasi pajak di Indonesia, khususnya digitalisasi sistem, lalu membandingkannya dengan kebijakan yang berlaku di Vietnam.

Dekan FH Unwahas, Dr. M. Shidqon Prabowo, SH., MH., bilang kalau agenda ini bagian dari upaya kampus menuju internasionalisasi.

“Kita ingin mahasiswa nggak hanya jago di hukum nasional, tapi juga melek tren global, termasuk isu pajak yang sekarang jadi perhatian banyak negara,” jelasnya.

Pihak HLU sendiri menyambut hangat kolaborasi ini. Mereka mengapresiasi cara mahasiswa Indonesia menyampaikan sudut pandang kritis dan sistematis soal hukum pajak internasional. Diskusi dua arah yang tercipta juga bikin atmosfer akademik makin hidup.

Nggak cuma itu, kegiatan ini jadi pintu untuk kemungkinan kerja sama lebih luas. Mulai dari riset bareng, seminar internasional, sampai pertukaran mahasiswa dan dosen di masa depan.

Program kuliah bersama ini merupakan bagian dari rangkaian aktivitas akademik FH Unwahas di Vietnam. Selain presentasi, ada juga diskusi, benchmarking kurikulum, dan penguatan jejaring internasional.

Lewat kesempatan ini, mahasiswa FH Unwahas diharapkan makin pede tampil di level global, sekaligus membawa nama baik Indonesia di dunia pendidikan tinggi. 

source : https://suaramuda.net/2025/08/31/mahasiswa-fh-unwahas-unjuk-gigi-di-hanoi-law-university-bedah-sistem-pajak-indonesia-vietnam/

Mahasiswa Indonesia kembali bikin bangga! Kali ini datang dari Roy David Kiantiong, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang.

Nggak main-main, Roy diundang jadi pembicara di acara Seminar Mahasiswa Internasional di Hanoi Law University (HLU), Vietnam!

​Roy membawakan topik yang keren dan penting banget, yaitu “Perbandingan Dasar Hukum Transfer Pricing di Indonesia dan Vietnam.”Buat yang bingung, transfer pricing itu istilah gampangnya, cara perusahaan multinasional atur harga jual-beli antar-cabang mereka sendiri. Ini sering banget jadi celah buat “ngakalin” pajak.

Menurut Roy, masalah ini bukan cuma soal pajak doang, tapi juga soal keadilan hukum. Kalau regulasi nggak ketat, bisa-bisa negara rugi besar karena perusahaan seenaknya menghindari pajak.Duh, bahaya banget kan? Makanya, Roy bilang, Indonesia dan Vietnam punya PR (pekerjaan rumah) yang sama buat ngetatin aturan ini.

​Presentasi Roy sukses banget! Peserta seminar—mulai dari mahasiswa, dosen, sampai akademisi—pada antusias dan banyak yang nanya-nanya. Diskusi jadi hidup dan seru!

​Dekan Fakultas Hukum Unwahas, Dr. M. Shdiqon Prabowo, jelas bangga banget. “Ini bukti kalau mahasiswa kami bisa bersaing di kancah internasional,” katanya. “Kami mau terus dorong mahasiswa biar bisa Go Global!”

​Prestasi Roy ini juga jadi bukti bahwa kampus Unwahas serius banget buat jadi universitas yang punya visi internasional.

Semoga pencapaian Roy ini bisa jadi inspirasi buat teman-teman mahasiswa lainnya biar makin semangat, berani tampil, dan nggak takut buat berkarya di tingkat dunia! ! 

source : https://suaramuda.net/2025/08/31/keren-mahasiswa-hukum-unwahas-ini-jadi-pembicara-di-vietnam-bahas-pajak-perusahaan-multinasional/

Fakultas Hukum Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang lagi serius banget nih soal upgrade kualitas akademik.

Nggak tanggung-tanggung, mereka terbang langsung ke Vietnam buat ngelakuin benchmarking kurikulum dan penjaminan mutu di Hanoi Law University, Jumat (29/8/2025).

Misi mereka jelas: bikin pendidikan hukum di Unwahas makin kompetitif di level global. Soalnya, dunia hukum sekarang udah nggak bisa lagi cuma mikirin level lokal, tapi juga harus nyambung sama standar internasional.Rombongan Unwahas dipimpin Dekan FH, Dr. M. Shidqon Prabowo, SH., MH, bareng jajaran pimpinan, dosen, bagian akademik, dan Unit Penjaminan Mutu.

Begitu sampai, mereka langsung disambut hangat sama pimpinan Hanoi Law University—kampus hukum top dan legendaris di Vietnam.Ngobrolnya nggak main-main, bahas soal desain kurikulum berbasis kompetensi, Outcome-Based Education (OBE), sampai cara menghadapi tantangan globalisasi dan digitalisasi di dunia hukum.

“Kami sadar banget tantangan hukum ke depan makin kompleks. Karena itu, kurikulum dan sistem mutu di Unwahas harus bisa nyambung ke standar global. Benchmarking di Hanoi kasih banyak inspirasi buat langkah ke depan,” kata Dr. Shidqon.

Fokus Utama Benchmarking

Ada tiga poin besar yang jadi fokus tim Unwahas selama di Hanoi:

  1. Kurikulum Hukum Adaptif – Belajar dari Hanoi Law University soal kurikulum yang balance antara teori, skill praktis, dan isu-isu kekinian kayak hukum lingkungan, perdagangan internasional, sampai cyber law.
  2. Penjaminan Mutu Akademik – Ngulik soal standar akreditasi, evaluasi dosen-mahasiswa, plus sistem continuous improvement yang udah jalan di sana.
  3. Kolaborasi Internasional – Mulai buka peluang pertukaran dosen & mahasiswa, riset bareng, publikasi internasional, sampai bikin seminar dan konferensi bareng.

Menurut Dr. Nanang Nur Kholis dari Kantor Urusan Internasional, langkah ini memang bagian dari roadmap internasionalisasi Unwahas. Targetnya? Bikin lulusan hukum yang nggak cuma jago di dalam negeri, tapi juga punya daya saing global.

“Kerja sama lintas negara ini bukan cuma soal akademik, tapi juga langkah buat mencetak sarjana hukum profesional, berintegritas, dan siap bersaing secara global,” tambah Dr. Nanang.

Sementara itu, Assoc. Prof. Dr. Phan Thi Lan Huong dari Hanoi Law University bilang kolaborasi kayak gini penting buat bikin jaringan akademik Asia Tenggara makin solid.

Kampus mereka sendiri punya lebih dari 10 ribu mahasiswa, dari S1 sampai S3, dan udah lama aktif kerja sama dengan universitas-universitas top dunia.

Dengan benchmarking ini, FH Unwahas berharap bisa bawa pulang banyak insight baru buat upgrade sistem pendidikan, riset, sampai pengabdian masyarakat.

Ujungnya, Unwahas pengin jadi kampus hukum yang bukan cuma diperhitungkan di Indonesia, tapi juga punya gaung di level internasional.

source: https://suaramuda.net/2025/08/30/benchmarking-internasional-fh-unwahas-gaspol-tingkatkan-kurikulum-bareng-hanoi-law-university/

uasana penuh antusiasme mewarnai Kuliah Tamu Internasional di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Sabtu (9/8/2025).

Acara yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis ke-25 Unwahas ini menghadirkan pembicara istimewa, Prof. Gautam Kumar Jha dari Jawaharlal Nehru University (JNU) India.

Dengan mengangkat topik “Islam, Democracy, and Legal Pluralism in Southeast Asia: An Indian Perspective on Indonesia’s Experience”, kuliah tersebut berlangsung di Smart Classroom, Gedung D Kampus Sampangan, dan diikuti sekitar 200 peserta baik secara daring maupun luring.

Dalam paparannya, Prof. Gautam menyoroti citra Islam Indonesia yang dikenal ramah dan toleran. Menurutnya, demokrasi di Indonesia berjalan baik karena didukung oleh masyarakat yang plural dan terbuka.

“Dalam pandangan saya setelah menjelajahi berbagai negara, masyarakat Indonesia adalah yang paling ramah di dunia,” ujarnya.Pengakuan tersebut bukan tanpa alasan. Peneliti yang telah tinggal di Indonesia selama lima tahun ini mengaku terkesan dengan kerukunan yang terjalin di tengah keberagaman.Rektor Unwahas, Prof. Dr. Ir. Helmy Purwanto, ST., MT., IPM, menyambut hangat kehadiran sang profesor tamu. Ia menegaskan bahwa keberagaman telah menjadi salah satu keunggulan Unwahas, khususnya dalam mengembangkan kerukunan antarumat beragama.

“Keberagaman adalah kekuatan kami. Kerukunan di kampus ini sudah kami rawat sejak lama,” ujarnya.

Prof. Helmy juga menyoroti perspektif India yang menarik untuk dipelajari, terutama soal perkembangan teknologi dan kebijakan inovatif yang sukses membawa India menjadi kekuatan global.

“India sudah berhasil membangun industri mobil nasional hingga industri alutsista. Perkembangan teknologinya luar biasa,” imbuhnya.

Kerja Sama Strategis dengan JNU

Momentum penting juga terjadi di sela acara, yakni penandatanganan kerja sama antara Unwahas dan Jawaharlal Nehru University.Kerja sama ini ditandatangani langsung oleh Prof. Helmy Purwanto dan Prof. Gautam Kumar Jha, serta dilanjut Dekan Fakultas Hukum Dr. M. Shidqon Prabowo, SH., MH dan Dekan FISIP Dr. Ali Martin, SIP., M.Si.Kolaborasi ini diharapkan membuka peluang pertukaran pelajar, penelitian bersama, dan berbagai program akademik yang menguatkan hubungan Indonesia–India.

Dengan semarak dies natalis ke-25, Unwahas kembali membuktikan komitmennya sebagai kampus yang tidak hanya memelihara keberagaman, tetapi juga aktif membangun jejaring internasional demi kemajuan ilmu pengetahuan.

source: https://suaramuda.net/2025/08/09/kuliah-tamu-internasional-di-unwahas-prof-gautam-beberkan-rahasia-islam-indonesia-yang-ramah-dan-demokratis/

Sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, Fakultas Hukum Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di lingkungan pesantren se-Kota Semarang, Sabtu (14/6/2025).

Kegiata dengan tema “Pengenalan Hak dan Kewajiban Pajak dalam Rangka Pembentukan Karakter Taat Pajak di Pondok Pesantren Se-Kota Semarang” ini bertujuan untuk mengedukasi para santri mengenai pentingnya hak dan kewajiban perpajakan.

Kegiatan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Asshodiqiyah Jl. Sawah Besar Kel. Kaligawe Kec. Gayamsari Kota Semarang ini juga dimaksudkan membangun kesadaran akan peran mereka sebagai warga negara yang taat pajak.

Melibatkan dosen dan mahasiswa Magister Hukum Fakultas Hukum sebagai fasilitator utama, kolaborasi ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang wajib pajak, sekaligus kenalkan konsep hukum pajak yang lebih aplikatif.

Pada kesempatan tersebut, para peserta diajak untuk memahami bagaimana pajak berperan dalam pembangunan bangsa dan mengapa kewajiban tersebut penting, tidak hanya bagi masyarakat, tetapi juga untuk kemajuan negara.

Kaprodi Magister Hukum sekaligus pelaksana kegiatan, Dr. Anto Kustanto mengungkapkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan kesadaran pentingnya taat pajak sejak dini, terlebih lagi di kalangan generasi muda yang memiliki peran besar dalam masa depan negara.

“Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai agama diharapkan bisa menjadi agen perubahan dalam membangun karakter taat pajak di kalangan santri, “ujar Anto, dalam sambutannya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum Unwahas Dr. M. Shidqon Prabowo berharap dapat terus berkontribusi dalam pengembangan masyarakat, khususnya dalam bidang hukum dan perpajakan, sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Dekan yang juga Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah itu juga memaparkan, Fakultas Hukum Unwahas adalah lembaga pendidikan tinggi yang berkomitmen untuk memberikan pengajaran yang berbasis pada nilai-nilai moral dan etika dalam hukum.

“Selain itu, Fakultas Hukum juga aktif dalam kegiatan pengabdian masyarakat sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, “ujarnya, di sela-sela acara.

Usai pemaparan materi, dibuka pula sesi diskusi dan tanya jawab antara para peserta dan narasumber. Para peserta sangat antusias dan menyambut positif inisiatif ini.

Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif, baik dalam peningkatan pemahaman mengenai pajak, maupun dalam pembentukan karakter yang mencerminkan sikap taat hukum dan cinta tanah air, terutama di kalangan generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa.

source : https://suaramuda.net/2025/06/menyasar-kalangan-santri-fakultas-hukum-unwahas-kenalkan-wajib-pajak-lewat-program-tri-dharma-perguruan-tinggi-di-pesantren-asshodiqiyah-semarang/